Wakil Ketua DPRD Inisiasi Tor-Catoran Pegiat Kopi

45 views

DPRD BONDOWOSO – Sebagai penghasil kopi specialty, Hari Kopi Sedunia 1 Oktober menjadi momen penting bagi Bondowoso. Sebab itu setiap tahunnya, ada saja agenda diskusi membahas kemajuan dunia Kopi Bondowoso. Hanya pelaksananya setiap tahun berbeda-beda.

Tahun ini, para pelaku kopi yang berkumpul adalah Payuban Kopi Argopuro dan Ijen, serta Topeng Kona Coffee Roaster. Karena masih dalam masa Pandemi Covid-19, pertemuan ini sangat terbatas. Bahkan panitia menyiapkan tempat duduk di Jojo Resto & Coffee dengan berjarak. Inisiatornya adalah Wakil Ketua DPRD Sinung Sudrajad, S.Sos.

Pesertanya adalah para pelaku kopi yang kebanyakan di hilir. Misalnya pemilik Cafe Bunga Pelita di Kampung Kopi Jalan Pelita Bondowoso, James pemilik Kontainer Cafe Laki-laki, Pemilik Cafe Joglo Curahdami, serta beberapa pemuda yang menjalankan bisnis kopi. Misalnya, Dani, pengusaha kopi dari Maesan. Semuanya berkumpul dalam peringatan Hari Kopi Sedunia 1 Oktober 2020.

Diskusi tersebut dipimpin langsung Wakil Ketua DPRD Sinung Sudrajad, S.Sos dengan pokok bahasan kemajuan dunia perkopian di Bondowoso. Menurut Sinung, diskusi itu harus tetap ada walau ditengah pandemi. Sebab berkaitan dengan keberlangsungan masa depan Kopi Bondowoso. “Covid itu saya yakin sementara, namun Kopi di Bondowoso akan menjadi kekayaan selama-lamanya,” ujar Sinung.

Politis PDI-P Bondowoso itu melihat ada berbagai elemen yang harus disatukan untuk memajukan industri kopi. Yakni masyarakat petani kopi, pemerintah dan pengusaha. Karenanya pihaknya mengajak perwakilan sejumlah mini market/toko modern di Bondowoso untuk turut memikirkan kemajuan kopi di Bondowoso. “Dimasa Pandemi, sektor kopi di Bondowoso, mengalami penurunan penjualannya. Dengan agenda di Hari Kopi ini goal yang kami inginkan, pelaku perkopian bisa kompak dan tetap optimis dengan melihat peluang pemasaran di toko-toko modern,” jelasnya.

Sebab sudah ada Perda Toko Modern di Bondowoso. Salah satu itemnya adalah setiap toko modern harus menyediakan stand promosi produk lokal Bondowoso. Pada acara tersebut, digagas bagaimana sistem percepatannya agar produk kopi Bondowoso segera bisa masuk pasar modern dengan masif.

Sementara pada tataran kualitas, para pelaku kopi di Bondowoso berharap adanya Kurator Kopi di Bondowoso. Tujuannya adalah menjaga kualitas kopi specialty. Hal ini diungkapkan Fajar, salah seorang pelaku perkopian. Menurut orang yang lama belajar kopi di Surabaya ini, harus ada Kurator atau lembaga pengesahan rasa atau grade. Misalnya Grade A, B, C atau D. “Sehingga ada kualias yang jelas ketika ada yang ingin merasakan kopi di Bondowoso,” terangnya.

Sebab selama ini, belum ada standarisasi kualitas kopi. Sehingga penentunya ditentukan sendiri-sendiri. Ketika yang menentukan dari Pemkab, dalam hal ini Diskoperindag, maka akan semakin meneguhkan dunia perkopian di Bondowoso. (sh)